Sabtu, 21 Januari 2012

Pelabuhan 8 (Karya Samsudin Adlawi)

ini puisi yg tadi aq baca wktu lomba..


Kapal yang dipecah badai
tadi malam telah kembali
sandarkan penumpang tanpa nadi
tanpa kepala tanpa tangan tanpa kaki

mayat-mayat itu gelimpang
di serakan ikan yang lepas
ombak terakhir yang hempas

di atas pasir yang panggang
ikan-ikan itu menggelepar
muntahkan kaki
muntahkan tangan
muntahkan kepala

kaki-kaki itu berjalan lalu
menempel di onggokan badan
tangan-tangan itu merangkak lalu
menempel di onggokan badan
kepala-kepala itu melayang lalu
menempel di onggokan badan

mayat-mayat itu bernadi lagi
geleparkan ikan di atas kuali
sajian pesta di malam sunyi

Kamis, 19 Januari 2012

DO’A ‘TUK SANG GURU

ini dia puisi yg aq buat sama papa waktu hari guru... check it out!


Meski telah berkali-kali
Seragammu selalu berganti
Namun,…. Jiwa patriotmu
Tak pernah lekang, apalagi gagu

Walau telah berulang kali
Kebijakan dan aturan kau lalui
Tetapi,…….. Nurani didikmu
Tak pernah menjadi layu
                   
Tuhan! Kabulkan pinta-tulusku
Jangan bersitkan durhaka dalam benakku
Dan,…….. Limpahkanlah BerkahRahmat-Mu
Untuk semua Guruku 

Jumat, 13 Januari 2012

Jejak Langkah Sang Penari


Jangan pernah bayangkan aku,….
Bersiap melakoni tarian dengan make up mewah
Juga…. berkendara bak raja nan pongah
Jauuuuhhh… dari itu semua
Jangan pernah bayangkan aku,…
Akan menari dengan gamelan tlah tertata
Juga… berdandan dengan perias yang jawara
Jauuuhhh… dari itu semua
Dan jangan pernah bayangkan aku,…
Tampilan roman mukaku bak Arjuna
Dan juga busanaku dari sutra tersetrika
Yang pasti… jauuuhhh dari itu semua
Dan sekali lagi, jangan pernah bayangkan aku,….
Hidup bak seniman tenar nan berkecukupan
Juga bergaya bagai penari profesional
Sudah pasti, sangat jauh dari itu semua

Aku,… hanyalah seorang penari
Yang dikejar usia senja
Terus melakoni hidup papa
Aku,…. hanyalah seorang penari
Yang selalu menari, menari, dan menari
Sejak ingus menempel di pipi
Sampai jadi pria sejati
Dan mungkin menjelang mati
Aku,… hanyalah seorang penari
Yang terus menari dengan irama monoton
Meliuk-liuk kaku bak ular phyton
Tampil gagah garang disoraki penonton
Dan aku,…. hanyalah seorang penari…. Jaranan
Yang mungkin dianggap manusia setengah gila
ketika ragaku bergetar dengan pandangan nanar
kesurupan menyelimutiku!
Dan….
Penonton bersahutan meledek aku

Aaaccchhh…. Andai mereka tahu?!
Betapa lelah, payah, dan ngilu
Sekujur tubuh dan tulang-tulangku
setelah perhelatan itu berlalu
Dan aku,…
Menerima upah seujung kuku
Tak mampu tuk hidup seminggu
Namun,…
Batinku terpuaskan karena itu
Hanya, jiwa ini kadang menerawang
Adakah kerinduan pada Jaranan
untuk generasi yang akan datang?

Pages